Breaking

Enam Siswa SMKN 1 Denpasar Ciptakan TaruPramana, Aplikasi Resep Usadha Bali yang Raih Terbaik di Coding Camp 2026

RE
Rabu, 19 Agustus 2026
Enam Siswa SMKN 1 Denpasar Ciptakan TaruPramana, Aplikasi Resep Usadha Bali yang Raih Terbaik di Coding Camp 2026
Enam siswa SMKN 1 Denpasar mempresentasikan aplikasi TaruPramana di Jakarta pada Selasa (18/8).

DENPASAR — Tim CC26-PS081 dari SMKN 1 Denpasar membuktikan bahwa kearifan lokal bisa berjalan beriringan dengan teknologi modern. Karya mereka, aplikasi bernama TaruPramana, dinobatkan sebagai Tim Capstone Terbaik dalam ajang Coding Camp 2026 powered by DBS Foundation, dan dipresentasikan di Jakarta pada Selasa (18/8).

Project Manager Tim CC26-PS081, I Gede Kasuma Dana, mengungkapkan bahwa aplikasi ini lahir dari keprihatinan terhadap kebiasaan masyarakat yang cenderung langsung mengonsumsi obat kimia untuk keluhan ringan. Padahal, Nusantara menyimpan kekayaan tanaman obat yang diwariskan secara turun-temurun, salah satunya bersumber dari naskah kuno Usadha Bali.

“Padahal, Nusantara memiliki kekayaan tanaman obat alami, salah satunya bersumber dari naskah pengobatan tradisional Usadha Bali,” ujar Kasuma.

Menjembatani Naskah Kuno dengan Teknologi Digital

Tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah pengetahuan dalam naskah kuno tersebut sulit dipahami dan belum terstruktur secara digital. TaruPramana dikembangkan untuk menjembatani pengetahuan tradisional dengan teknologi agar lebih mudah diakses oleh masyarakat luas.

Cara kerja aplikasi ini cukup sederhana. Pengguna cukup memasukkan sejumlah keluhan yang dirasakan, lalu sistem akan memberikan rekomendasi ramuan beserta dosisnya. Namun, di balik kemudahan itu, terdapat proses teknis yang kompleks.

Bagaimana Sistem Menentukan Ramuan yang Tepat?

Tim harus memetakan 30 kata kunci gejala ke dalam enam area organ tubuh dan menyinkronkannya dengan basis data ramuan herbal. Sistem menggunakan algoritma pencocokan multi-gejala dengan array overlap query pada PostgreSQL.

“Ketika pengguna memilih beberapa titik keluhan sekaligus dengan tingkat keparahan yang berbeda, sistem tetap dapat menampilkan rekomendasi ramuan yang presisi beserta kalkulasi dosis dinamis,” jelas Kasuma.

Untuk keamanan pengguna, TaruPramana juga dilengkapi Safety Warning Alert 48 jam. Fitur ini akan mengarahkan pengguna untuk segera mendapatkan penanganan medis apabila keluhan tidak kunjung membaik. Sistem dirancang mampu memberikan respons dalam waktu kurang dari 200 milidetik.

Rencana Pengembangan: PWA dan Kecerdasan Buatan

Saat ini TaruPramana sudah dapat diakses publik melalui peramban web. Setelah meraih predikat terbaik, tim berencana mengembangkan aplikasi menjadi Progressive Web App (PWA) agar dapat digunakan secara luring di wilayah dengan keterbatasan sinyal.

Tak berhenti di situ, mereka juga berencana menambahkan analisis pola gejala berbasis kecerdasan buatan (AI) serta membuka peluang kerja sama dengan UMKM dan penyedia bahan herbal lokal.

Guru pendamping, Kadek Unggah Adi Nope, mengatakan pengembangan TaruPramana selaras dengan pembelajaran RPL di sekolah. Bedanya, pelatihan Coding Camp melalui Dicoding menggunakan pendekatan industri sehingga siswa mendapat pengalaman mengerjakan proyek dengan tuntutan yang lebih kompleks.

“Kalau dari kurikulum kami berlandaskan kurikulum nasional. Namun kalau di Dicoding tentu dengan sudut pandang industri. Jadi lebih kompleks, namun secara materi dan dasar pembelajarannya tetap sama,” ujarnya.

Kepala SMKN 1 Denpasar I Wayan Mustika menambahkan, capaian ini merupakan hasil proses panjang yang persiapannya dimulai sejak akhir 2025 dengan pendampingan guru RPL. Tim CC26-PS081 terdiri dari I Gede Kasuma Dana (Project Manager), I Nyoman Anrasansya Dharma Putra (UI/UX), I Made Bagus Listyawan dan Surya Nur Hardiwan Saputra (Frontend), serta I Made Sandhi Mardinata dan I Putu Bagas Wikananda (Backend).

Sumber: nusabali.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua